Senin, 14 Desember 2015
Minggu, 30 Agustus 2015
Waktu bagian 2
Kumon, lembaga pendidikan informal tempat pertama kali aku bekerja, mengamalkan ilmu yang aku miliki. Di t empat ini membuatku sadar bahwa ilmu yang aku milik, secuil kukupun tak ada, sangat sedikit ilmu dan kemampuan yang aku miliki. Di tempat ini pula ku mendapat pengalaman berharga, aku dipertemukan dengan anak-anak hebat indonesia. Mereka mampu belajar materi di atas tingkatan kelas mereka. Tak heran banyak hal lucu, aneh, kadang menyebalkan yang benar-benar menguji kesabaran. Seringkali aku berpikir sudahkah aku mendampingi mereka dengan dengan benar? Tentunya aku jauh dari sempurna saat mendampingi mereka. Banyak tingkah laku mereka yang kadang membuatku jengkel, ya...tapi itulah anak-anak. Kumon mengajarkan ku bagaimana mengatur waktu, semangat, kerjasama, dan bergaul. Di sini aku bertemu dengan teman-teman yang sangat baik, canda tawa, keluh kesah kami lalui bersama. Semangat dan kerja sama selalu kami lakukan dalam setiap pekerjaan. Keseruan, keributan, salah paham, pasti kami lalui saat bekerja, dan kami dapat menyelesaikan dengan baik.
Kurang lebih 10 bulan perjalanan ku di kumon, selama itu pula timbul gejolak di hati ku. Betapa tidak adilnya dunia pendidikan ini, kami di kota dapat menikmati segala fasilitas sekolah, bimbingan belajar, hiburan, pengembangan kemampuan kreativitas dapat disalurkan dengan baik. Namun hati ini terkadang sedih anak-anak yang penuh dengan fasilitas dan kemewahan terkadang tidak serius saat belajar. Sedangkan di luar sana, jangankan kegiatan pengembangan kreativitas, sekolahpun mereka sulit.
Hari ini (31 juli 2015) kaki ini melangkah pergi, kaki ini berdiri kokoh menopang tubuh ini. Kaki ini melangkah jauh dari Bapak, Ibu, Mba eva, Mba onik dan seluruh teman-temanku. Mulai hari ini aku akan menjalani hidup baru, berdiri di atas kaki ku sendiri, di daerah baru, kebudayaan baru, orang-orang baru, yang sama sekali belum pernah aku bayangkan. Terimakasih ya Allah atas nikmat yang telah engkau berikan. Tak pernah aku bermimpi ini, mimpi yang sangat indah. Mimpi yang tak pernah ku impikan, ya SM-3T. Hari ini, pagi ini tepat pukul 08.18 WIB ku tinghalkan Jogjakarta, keluarga, teman, pekerajan, anak-anak, kenangan.
Perjalanan panjang dan melelahkan, jarak ratusan kilometer, diiringi pemandangan yang sangat indah, menakjubkan, sawah, kebun, bukit , hutan dan lembah semuanya begitu indah. Tak terasa jarak yang begitu jauh telah ku lalui. Pukul 15.48 WIB kereta yang ku naiki berhenti. Untuk pertama kalainya ku injakkan kaki ku di Bandung, ya ini adalah keinginana sederhana, keinginan yang hampir aku lupakan, tetapi ternyata Allah berkehendak lain, terimakasih dan ucap syukur tak henti ku ucapkan pada Allah.
Bandung, tempat yang cukup lama ku dambakan untuk ku kunjungi. Di sinilah aku akan melaksanakan pra kondisi SM-3T selama dua minggu. Terimakasih ya Allah, selalu lindungi dan sehatkanlah aku agar aku dapat melaksanakan prakondisi dengan baik.
Minggu, 23 Agustus 2015
Waktu bagian 1
"Ibu aku ingin sepatu itu" ucapku sambil merengek. Namun ibu hanya diam, kemudian aku menangis sejadi-jadinya. "Ibu aku ingi sepatu baru" dengan sabar ibymu mengajakku pulang dari pasar. Sesampainya di rumah aku masih menangis, dengan sabar ibu berkata "iya nak ibu akan membelikannya, tapi tidak sekarang" aku pun terus merengek. "Uang ibu belum cukup untuk membeli sepatu, nah bagaimana kalau mulai hari ini kita menabung bersama untuk membeli sepatu?" ucap ibu sambil memangku ku. Akupun mulai berhenti menangis "baiklah bu, ayo kita menabung".
* * *
Ujian sekolah telah tiba, hatiku berdegup kencang seakan nyaris terlepas melompat keluar dari kerangka. "Nak ayo sini belajar" bapak memanggilku sembari membawa soal-soal untuk ku pelajari. Aku dan bapak setiap hari belajar bersama, aku sekolah di tempat bapak mengajar. Banyak keuntungan yang aku dapatkan. Namun hari itu aku kurang beruntung hasil ulangan matematika ku dibagi, hasilnya aku mendapat nol besar. Saat itu aku takut, sesampainya di rumah aku buan hasil ulangan itu. Tapi aku yakin bapak tetap hasil ulangan ku.
* * *
"Mba eva....mana stikernya?" aku berteriak sambil berlari menambut kakak pertama ku pulang sekolah. "Huh...dasar bocah, nanti mba ganti baju dulu" ucap kakak ku kesal karena ulah ku. "Aku mau yang tom and jerry, empat pokoknya aku mau empat" rengek ku. Mba eva selalu memberika apa yang aku ingin. Tapi aku tidak suka saat aku makan disuapi mba eva, karena selalu disuruh cepat-cepat dan harus habis. Aku kasihan saat mba eva sakit dan di marahi ibu karena telat pulang sekolah. Aku paling suka saat diajaknya jalan-jalan keliling desa bahkan sampai desa sebelah yang jauh.
* * *
"Iiiiiiihhhhh....aku yang warna kuning, aku ga mau yang ini" teriak mba onik kakak ku yang kedua. "Enaka aja, ga mau pokoknya aku yang kuning. Dasar bendil!" Ucap kakak ku. Setelah sekian lama kami beradu mulut, akhirnya tangan dan kaki kami pun ikut beradu. "Rasain, aku jambak rambut mba" kakak ku pun langsung membalas menjambak rambut ku. Sebenarnya kami adalah teman bermain yang paling seru. Apapum kami bicarakan, kami selalu bersama dan bermain bersama. Namun entah kenapa, di tengah-tengaj saat kami bermain, kami selalu bertengkar. Entah siapa yang mulai terlebih dahulu, aku selalu kalah dan menangis, kakak ku selalu menang dan selalu dimarahi ibu. Aku senang saat ibu memarahi kakak ku, menurut ku itu menyenangkan karena aku kalah.
* * *
Itulah sebagian kecil kenangan masa kecilku sekitar 17-18 tahun yang lalu. Setelah lulus SMA ku tinggalkan bapak, ibu dan kekasih untuk melanjutkan pendidikan ku di Yogyakarta. Selama empat tahun aku berjuang bersama teman-teman baru dari berbagai daerah. Aku masuk kelas A5 di sana aku bertemu dengan teman-teman yang unik dan aneh-aneh. Suka, duka, tawa, canda, iri, dengki, caci, maki kami lalui bersama selama empat tahun. Perjuangan, semangat dan dukungan benar-benar kami rasakan saat skripsi. Begitu banyak tantangan, ego, emosi yang sanat menguras energi. Namun kami dapat mendukung satu sama lain agar tetap semangat. Tawa dan tangis kami rasakan bersama. Kebahagiaan kami rasakan saat kelukusan kami tiba. Slam-slam terakhir dan semangat tak henti kami ucapkan untuk menghadapi dan melanjutkan hidup.
* * *
Rabu, 27 November 2013
soal berpikir divergen
|
NAMA :
KELAS :
NO.
PRESENSI :
|
Sabtu, 23 November 2013
- Tahap sensorimotor, dari lahir hingga 2 tahun (anak mengalami dunianya melalui gerak dan inderanya serta mempelajari permanensi obyek).
- Tahap pra-operasional, dari 2 hingga 7 tahun (mulai memiliki kecakapan motorik).
- Tahap operasional konkret, dari 7 tahun hingga 11 tahun (anak mulai berpikir secara logis tentang kejadian-kejadian konkret).
- Tahap operasional formal, setelah usia 11 tahun (perkembangan penalaran abstrak).
- Tahap Sensorimotor
- Skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
- Reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
- Reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
- Koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalaiu dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
- Fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dusbelas sampai delapan belas bulan berhubungan dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
- Awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.
- Tahap pra-operasional
- Tahap operasional konkret
- Pengurutan, kemampuan mengurutkan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contoh: dapat mengurutkan benda dari ukuran paling besar ke paling kecil.
- Klasifikasi, kemampuan memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda-benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda dapat menyertakan bebnda lainnya ke dalam rangkaian tesebut. Tidak lagi menganggap bahwa semua benda hidup dan memiliki perasaan.
- Decentring, mulai dapat mempertimbangkan bebrapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Contoh: anak tidak lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih banyak isinya dibandingkan dengan cangkir kecil tapi tinggi.
- Reversibility, mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keasaan awal. Contoh: anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
- Konservasi, memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau bneda-benda tersebut. Contoh, jika anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bil air dituangkan ke gelas lain yang ukrannya berbeda, air digelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
- Penghilangan sifat egosentris, mampu untuk melihat dari sudut pandang oran glain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah).
- Tahap operasional formal
Kamis, 14 November 2013
tokoh filsafat pendidikan
- Filsafat Pendidikan Idealisme
Plato (428-348 SM) Plato filosof dari Yunani yang aktif mengembangkan filsafat dengan mendirikan sekolah “academia”. Ia berpendapat bahwa konsep ide merupakan pandangan terdapat suatu dunia di balik alam kenyataan, sebagai hakikat dari segala yang ada, kebaikan dan keburukan. Ide merupakan suatu hal yang objektif yang di dalamnya berpusat dan dikendalikan oleh puncak ide yang digambarkan sebagai ide tentang kebaikan yang diformulasikan sebagai tuhan. (http://forum.indonesiamengajar.org/discussion/115/aliran-aliran-dalam-filsafat-pendidikan/p1, diakses pada 10 Oktober 2013 19.40)
Al- Ghazali Al-Ghazali merupakam tokoh ilmu aliran al-Muhafidz yang memaknai ilmu dengan pengertian sempit. Menurut al-Thusi, ilmu yang utama hanya ilmu-ilmu yang dibutuhkan sekarang, yang jelas akan membawa manfaat di akhirat kelak. Al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu-ilmu keagamaan hanya dapat diperoleh dengan kesempurnaan rasio dan kejernihan akal budi. Karena, hanya dengan rasiolah manusia mampu menerima amanat dari Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Pemikiran al-Ghazali ini sejalan dengan aliran Mu’tazilah yang berpendapat bahwa rasio mampu menetapkan baik buruknya sesuatu. Pola umum pemikiran al-Ghazali dalam pendidikannya antara lain:
- Kegiatan menuntut ilmu tiada lain berorientasi pada pencapaian ridha Allah.
- Teori ilmu ilhami sebagai landasan teori pendidikannya, dan diperkuat dengan sepuluh kode etik peserta didik.
- Tujuan agamawi merupakan tujuan puncak kegiatan menuntut ilmu.
- Pembatasan term al-‘ilm hanya pada ilmu tentang Allah. (http://copast-master.blogspot.com/2012/12/aliran-utama-dalam-filsafat-pendidikan.html, diakses pada 11 Oktober 2013 pukul 12.35)
- Filsafat Pendidikan Realisme
Aristoteles (384-348 SM) Aristoteles adalah bapak ilmu, beliau berpandangan bahwa ilmu pendidikan dibangun melalui riset pendidikan. Riset merupakan suatu gerak maju dan kegiatan-kegiatan observasi menuju prinsip-prinsip umum yang bersifat menerangkan dan kembali kepada observasi. Kemudian ia berpendapat sebaiknya ilmuan menarik kesimpulan secara induksi dan deduksi. Tahap induksi, generalisasi(kesimpulan umum) tentang bentuk ditarik dari pengalaman pengindraan. Selanjutnya kesimpulan yang diperoleh dari tahapan induksi dipergunakan untuk premis-premis deduksi dari pernyataan-pernyataan tentang observasi. Menurut Aristoteles realitas tertinggi adalah yang kita lihat dengan indera-mata kita. Aristoteles tidak menyangkal bahwa bahwa manusia memiliki akal yang sifatnya bawaan, dan bukan sekedar akal yang masuk dalam kesadarannya oleh pendengaran dan penglihatannya. Pemikiran Aristoteles sangat berpengaruh pada pemikiran Barat dan pemikiran keagamaan lain pada umumnya. Penyelarasan pemikiran Aristoteles dengan teologi Kristiani dilakukan oleh Santo Thomas Aquinas di abad ke-13, dengan teologi Yahudi oleh Maimonides (1135 – 1204), dan dengan teologi Islam oleh Ibnu Rusyid (1126 – 1198). Bagi manusia abad pertengahan, Aristoteles tidak saja dianggap sebagai sumber yang otoritatif terhadap logika dan metafisika, melainkan juga dianggap sebagai sumber utama dari ilmu pengetahuan, atau "the master of those who know", sebagaimana yang kemudian dikatakan oleh Dante Alighieri.(http://forum.indonesiamengajar.org/discussion/115/aliran-aliran-dalam-filsafat-pendidikan/p1, diakses pada 10 Oktober 2013 pukul 12.50)
- John Locke
dilahirkan tanggal 28 Agustus 1632 di Wrington, Somerset. Salah satu pemikiran Locke yang paling berpengaruh di dalam sejarah filsafat adalah mengenai proses manusia mendapatkan pengetahuan. Ia berupaya menjelaskan bagaimana proses manusia mendapatkan pengetahuannya. Menurut Locke,seluruh pengetahuan bersumber dari pengalaman manusia. Posisi ini adalah posisi empirisme yang menolak pendapat kaum rasionalis yang mengatakan sumber pengetahuan manusia yang terutama berasal dari rasio atau pikiran manusia. Meskipun demikian, rasio atau pikiran berperan juga di dalam proses manusia memperoleh pengetahuan. Dengan demikian, Locke berpendapat bahwa sebelum seorang manusia mengalami sesuatu, pikiran atau rasio manusia itu belum berfungsi atau masih kosong. Situasi tersebut diibaratkan Locke seperti sebuah kertas putih (tabula rasa) yang kemudian mendapatkan isinya dari pengalaman yang dijalani oleh manusia itu. Rasio manusia hanya berfungsi untuk mengolah pengalaman-pengalaman manusia menjadi pengetahuan sehingga sumber utama pengetahuan menurut Locke adalah pengalaman. Locke menyatakan ada dua macam pengalaman manusia, yakni pengalaman lahiriah (sense atau eksternal sensation) danpengalaman batiniah (internal sense atau reflection).Pengalaman lahiriah adalah pengalaman yang menangkap aktivitas indrawi yaitu segala aktivitas material yang berhubungan dengan panca indra manusia. Kemudian pengalaman batiniah terjadi ketika manusia memiliki kesadaran terhadap aktivitasnya sendiri dengan cara 'mengingat', 'menghendaki', 'meyakini', dan sebagainya. Kedua bentuk pengalaman manusia inilah yang akan membentuk pengetahuan melalui proses selanjutnya. Dari perpaduan dua bentuk pengalaman manusia, pengalaman lahiriah dan pengalaman batiniah, diperoleh apa yang Locke sebut 'pandangan-pandangan sederhana' (simple ideas) yang berfungsi sebagai data-data empiris. Ada empat jenis pandangan sederhana:
- Pandangan yang hanya diterima oleh satu indra manusia saja. Misalnya, warna diterima oleh mata, dan bunyi diterima oleh telinga.
- Pandangan yang diterima oleh beberapa indra, misalnya saja ruang dan gerak.
- Pandangan yang dihasilkan oleh refleksi kesadaran manusia, misalnya ingatan.
- Pandangan yang menyertai saat-saat terjadinya proses penerimaan dan refleksi. Misalnya, rasa tertarik, rasa heran, dan waktu. (http://id.wikipedia.org/wiki/John_Locke, diakses pada 11 Oktober 2013 pukul 13.00)
- Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
Soren Kierkegaard (1813-1855) memberikan pengertian eksistensialisme adalah suatu penolakan terhadap suatu pemikiran abstrak, tidak logis atautidak ilmiah. Kierkegaard sendiri melihat dirinya sebagai seseorang yang religius dan seorang anti-filsuf, tetapi sekarang ia dianggap sebagai bapaknya filsafat eksistensialisme. Kierkegaard menjembatani jurang yang ada antara filsafat Hegelian dan apa yang kemudian menjadi Eksistensialisme. Kierkegaard pernah mengagumi filsafat Hegel karena dianggap mampu memberikan jawaban yang sangat mendalam dan menyeluruh tentang sejarah umat manusia, dalam perspektif yang sama sekali baru saat itu. Namun, kemudian Kierkegaard melihat idealisme Hergel itu terlalu abstrak, serta tidak mampu menjangkau kehidupan konkret dan faktual manusia serta permasalahannya. Persoalan-persoalan manusia seperti kebahagiaan, kebebasan, kecemasan, penderitaan, dan sebagainya harus dicari jawabannya atau maknanya. Namun, persoalan-persoalan seperti itu tidak mungkin diterangkan oleh --atau dapat dijelaskan dalam kerangka pemikiran – Hegel. Kritik Kierkegaard atas idealisme Hegel, teori-teori umum, dan obyektivisme ilmu adalah bahwa pendekatan Hegel itu seperti menganjurkan manusia untuk sekadar menjadi pengamat bisu, yang tidak punya komitmen dan keterlibatan dengan hal-hal yang terjadi di pentas teater dunia. Padahal, sebenarnya manusia adalah aktor yang secara langsung atau tak langsung juga berperan dalam cerita yang dipentaskan di teater tersebut. Dalam kaitan agama, Kierkegaard beranggapan, kepercayaan pada Tuhan akan selalu melibatkan pilihan individual, suatu ”loncatan iman” individual. Apa yang dilibatkan dalam kehidupan iman tidak dapat disangkal, atau dalam hal ini divalidasi, oleh logika konvensional atau sintesis rasional. Dengan demikian, Kierkegaard praktis menolak pandangan Hegel. Jika filsafat agama secara tradisional berusaha mendamaikan iman dan nalar (rasio), Kierkegaard justru mengambil langkah yang bertentangan dan menegaskan ketidakcocokan antara keduanya. Yakni, ada diskontinuitas mutlak antara yang manusiawi dan yang ilahiah. (http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2010/11/soren-kierkegaard-dan-eksistensialisme.html, diakses pada 11 Oktober 2013 pukul 21.45)
John Dewey (1859-1952) adalah pelopor pendidikan progresif, ia memandang bahwa anak-anak harus didorong untuk mengembangkan free personalities dan bahwa mereka harus diajarkan “bagaimana untuk berpikir dan untuk membuat penilaian daripada hanya memiliki kepala mereka diisi dengan ilmu pengetahuan”. Dewey juga percaya bahwa sekolah adalah tempat di mana anak-anak harus belajar untuk hidup kooperatif. (http://informasi2-pendidikan.blogspot.com/2011/05/filsafat-pendidikan-12-tokoh-filsafat.html, diakses 11 Oktober 2012)- Pemikran selalu berada dalam situasi yang membingungkan dan tidak jelas.
- Pemikiran selalu berada dalam situasi yang jelas di mana masalah-masalah terpecahkan. (http://leonardoansis.wordpress.com/goresan-pena-sahabatku-yono/goresan-pena-sahabatku-paul-kalkoy/pragmatisme-john-dewey/, diakses pada 12 Oktober 2013 pukul 07.46 WIB)
Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831), mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi satu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah. Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan, yang dikuasai oleh hukum-hukum-hukum sejenis. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan. Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam spiritual. Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak, maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak. (http://www.wartamadani.com/2013/03/konsep-pendidikan-esensialisme-dalam.html, diakses 12 Oktober 2013 pukul 08.18)
Thomas Aquinas berpendapat pendidikan adalah menuntut kemampuan-kemampuan yang masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadaran tiap-tiap individu. Seorang guru bertugas untuk menolong membangkitkan potensi yang masih tersembunyi dari anak agar menjadi aktif dan nyata. Menurut J.Maritain, norma fundamental pendidikan adalah:- Cinta kebenaran
- Cinta kebaikan dan keadilan
- Kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksistensi
- Cinta kerjasama
Rabu, 13 November 2013
RPP SPLV

|
Sintaks
|
Guru
|
Siswa
|
Kegiatan
|
Alokasiwaktu
|
|
|
1. Mengingatkan kembali
materi yang berkaitan dengan meyelesaikan PLSV yaitu menentukan bentuk setara
dari PLSV.
2. Menyampaikan tujuan
pembelajaran dan memberikan motivasi kepada siswa.
|
1. Siswa mengingat
kembali dan menyimak penjelasan dari guru.
2. Menyimak tujuan
pembelejaran dan motivasi yang disampikan oleh guru.
|
Pendahuluan
· Apersepsi:
|
5 menit
|
|
Think (berpikir)
Pairing (berpasangan)
Share (berbagi)
|
·
Guru memberikan permasalahan
dalam bentuk LKS untuk diselesaikan olehs iswa.
·
Siswa diberi waktu untuk membaca dan
mengamati permasalahan tersebut agar siswa mengembangkan pemikiran sehingga memiliki
gambaran bagaimana cara menyelesaikan permasalahan tersebut.
·
Guru mempersilahkan siswa untuk mencari
teman sebagai pasangan dalam kelompok.
·
Guru meminta pasangan-pasangan siswa
saling berbagi dan bekerjasama untuk menyelesaikan permasalahan yang
diberikan.
·
Guru memberikan bimbingan dan membantu
kesulitan yang dihadapi oleh masing-masing kelompok.
·
Setelah menyelesaikan permasalahan,
beberapa kelompok siswa diminta menyampaikan hasil diskusi di depan kelas untuk
didiskusikan bersama dengan guru dan kelompok lain, serta guru memberikan penguatan
dan apresiasi dari hasil diskusi siswa.
|
·
Siswa menerima permasalahan dalam
bentuk LKS untuk diselesaikan.
·
Membaca dan mengamati permasalahan
yang diberikan sehingga memiliki gambaran bagaimana menyelesaikan permasalahan
tersebut.
·
Mencari teman untuk berkelompok.
·
Masing-masing pasangan bekerja sama
menyelesaikan permasalahan.
·
Siswa dibimbing dan diberibantuan
oleh guru.
·
Beberapa kelompok siswa menyampaikan
hasil diskusi serta diberi tanggapan oleh kelompok lain dan guru.
|
Inti
Eksplorasi
Eksplorasi
Elaborasi
Elaborasi
Elaborasi, konfirmasi
Konfirmasi
|
70 menit
|
|
|
1. Guru bersama siswa
membuat kesimpulan yang telah dipelajari.
2. Memberikan tugas
kepada siswa.
|
1. Siswa bersama
guru membuat kesimpulan yang telah dipelajari.
2. Menerima tugas untuk
diselesaikan
|
Penutup
|
5
menit
|
|
Kompetensi Dasar
|
Indikator
|
Instrumen
|
Skor
|
|
2.3. Menyelesaikan persamaan linear satu variabel
|
·
Menentukan penyelesaian PLSV
·
Menentukan penyelesaian PLSV dalam bentuk pecahan
|
1.
Sebuah pabrik
roti menggaji seluruh karyawannya Rp100.000,00 tiap hari. Biaya bahan baku
untuk tiap rotiadalah Rp600,00. Harga tiap roti Rp1.100,00. Berapakah banyak
roti yang harus terjual tiap hari agar pendapatan sama dengan
pengeluaran?
2.
Sebuah mobil
dan sepeda motor berangkat bersamaan dan menempuh jarak yang sama. Kecepatan
mobil 60 km/jam sedangkan sepeda motor 45 km/jam. Jika sepeda motor tiba di
tempat tujuan 2 jam setelah mobil tiba, berapakah waktu yang diperlukan mobil
dan berapa waktu yang diperlukan sepeda motor?
|
Total 20
Total 20
|




